Jangan Asal Tanda Tangan! Ini Isi Kontrak Warehouse yang Harus Dipahami Seller Online

 Jangan Asal Tanda Tangan! Ini Isi Kontrak Warehouse yang Harus Dipahami Seller Online

Buat UMKM seller online, kerja sama dengan warehouse/fulfillment (seperti Crewdible) itu kelihatan simpel: titip barang, mereka urus kirim. Tapi di balik itu ada kontrak yang kalau nggak dipahami bisa bikin rugi di kemudian hari. Ini poin-poin krusial yang wajib kamu pahami sebelum tanda tangan:


1️ Ruang Lingkup Layanan: Mereka Ngapain Aja, Kamu Dapat Apa?

Pastikan kontrak menjelaskan detail layanan:

  • Penyimpanan (storage)
  • Picking & packing
  • Pengiriman (kurir apa saja)
  • Penanganan retur
  • Layanan tambahan (QC, repacking, labeling)

Waspada:
Kalau hanya tertulis “layanan logistik”, minta diperjelas. Semakin detail, semakin kecil risiko salah paham.


2️ Biaya & Skema Pembayaran: Jangan Sampai Kaget Tagihan

Biasanya ada beberapa jenis biaya:

  • Biaya simpan per hari/bulan
  • Biaya proses per order
  • Biaya per SKU / per item
  • Biaya minimum bulanan

Tips:
Minta simulasi biaya bulanan berdasarkan volume order kamu sekarang. Ini bikin kamu tahu apakah masih masuk margin atau nggak.


3️ SLA (Service Level Agreement): Janji Waktu Proses Order

SLA menentukan:

  • Batas jam cut-off (misal order masuk sebelum jam 14.00 dikirim hari itu)
  • Waktu proses picking & packing
  • Target akurasi pengiriman (misal 99%)

Kenapa penting?
Kalau sering telat kirim, rating tokomu di marketplace bisa anjlok. Pastikan ada kompensasi kalau SLA dilanggar.


4️ Tanggung Jawab Barang Hilang atau Rusak

Ini bagian paling sensitif:

  • Siapa tanggung jawab jika barang rusak di gudang?
  • Apakah ada asuransi?
  • Ganti rugi pakai harga pokok (HPP) atau harga jual?

Red flag 🚩:
Kalau tertulis “warehouse tidak bertanggung jawab atas kehilangan akibat kelalaian pihak ketiga” tanpa batasan yang jelas.


5️ Kepemilikan Barang: Tetap Milik Seller!

Pastikan tertulis tegas:

Barang yang disimpan tetap menjadi milik seller.

Ini penting untuk:

  • Menghindari masalah saat warehouse bermasalah secara hukum
  • Mempermudah proses penarikan stok jika kerja sama berakhir

6️ Retur & Komplain: Alurnya Harus Jelas

Kontrak sebaiknya mengatur:

  • Alur barang retur masuk gudang
  • Siapa yang cek kondisi barang
  • Apakah stok langsung aktif kembali atau perlu QC

Tanpa aturan jelas, retur bisa “nyangkut” di gudang dan bikin stok kamu kacau.


7️ Masa Kontrak & Pengakhiran Kerja Sama

Cek bagian:

  • Durasi kontrak (6 bulan / 1 tahun / auto-renewal)
  • Syarat berhenti kerja sama
  • Denda jika terminate lebih awal
  • Waktu penarikan stok dari gudang

Tips praktis:
Hindari kontrak yang mengikat lama tanpa opsi keluar yang masuk akal untuk UMKM.


8️ Perubahan Tarif & Aturan Sepihak

Pastikan ada klausul:

  • Perubahan biaya harus dengan pemberitahuan tertulis
  • Ada masa transisi sebelum tarif baru berlaku

Ini melindungi kamu dari kenaikan biaya mendadak yang bisa merusak cashflow.


9️ Keamanan Data & Integrasi Sistem

Kalau gudang terhubung ke marketplace atau sistem stok:

  • Data penjualan & customer harus dilindungi
  • Hak akses sistem jelas (siapa bisa lihat & ubah data)

10️ Penyelesaian Sengketa: Kalau Ada Masalah, Larinya ke Mana?

Perhatikan:

  • Penyelesaian lewat musyawarah dulu
  • Kalau gagal, mediasi/arbitrase/pengadilan di wilayah mana

Pilih yang realistis untuk UMKM (misal domisili Indonesia, bukan luar negeri).


Kerja sama dengan warehouse itu bisa bantu bisnis kamu naik level, tapi kontrak adalah pagar pengamanmu. Jangan buru-buru tanda tangan hanya karena ingin cepat go live. Luangkan waktu baca tiap pasal, tanya yang nggak jelas, dan nego kalau perlu. Lebih baik ribet di awal daripada pusing di belakang.


 

Posting Komentar

0 Komentar